Nasib Kido/Hendra : Tunggu Rapat Pleno


.

JAKARTA - Markis Kido dan Hendra Setiawan harus menunda keinginan meninggalkan pelatnas PB PBSI. Meski kontrak mereka sudah berakhir akhir tahun lalu, Ketua Umum PB PBSI Djoko Santoso belum memberikan jawaban atas surat pengunduran diri pasangan terbaik dunia itu.

"Saya akan bicarakan dan memutuskan hal itu melalui rapat pleno. Rapat tersebut kemungkinan kami gelar pada 9 atau 10 Januari nanti," kata Djoko di Pusat Bulu Tangkis Indonesia, Cipayung, Jakarta, kemarin pagi (6/1).

Djoko tidak memungkiri bahwa surat pengunduran diri Kido/Hendra diajukan kepada dirinya. Surat tersebut dia terima sekitar tiga pekan lalu. Namun, Djoko tidak mau mengambil keputusan sendiri.

Orang nomor satu di organisasi bulu tangkis tanah air itu ingin mendengar pandangan pihak lain. Utamanya, pihak-pihak yang selama ini selalu bersinggungan langsung dengan Kido/Hendra di lapangan. Baik itu saat berlatih, bertanding, maupun istirahat.

"Saya ingin menegakkan demokrasi di PBSI. Karena itu, keputusan ini akan saya ambil dalam rapat pleno. Saya ingin mendengar pandangan pelatih dan Kabid Binpres (ketua bidang pembinaan dan prestasi)," tutur Djoko.

"Saya juga akan mencoba berbicara dengan mereka (Kido dan Hendra)," tambah pria yang juga menjabat panglima TNI tersebut.

Djoko yakin bisa mengambil keputusan yang lebih baik melalui rapat pleno tersebut. "Terbaik bukan saja untuk individu pemain. Tapi, yang lebih penting untuk bangsa Indonesia. Sebab, sampai kapan pun, mereka kan akan bertanding atas nama Indonesia," tegas Djoko.

Memang, dengan status sebagai pemain pelatnas atau tidak, di punggung Kido/Hendra akan tetap terpasang Indonesia. Dalam kejuaraan beregu seperti Piala Thomas maupun peseorangan seperti super series, mereka harus tetap menadftar melalui PB PBSI. Jadi, di ajang internasional, perubahan status dari pemain pelatnas ke nonpelatnas tidak ada bedanya.

"Itu sudah menjadi peraturan dari badan bulu tangkis dunia (BWF). Meski pemain itu mandiri, di setiap even, mereka tetap mengusung nama negaranya," ujar Jacob Rusdianto, sekretaris jenderal PB PBSI.

Dalam kesempatan tersebut, Djoko juga memaparkan rancangan PB PBSI terkait dengan pengunduran diri atlet dari pelatnas. Djoko menyebutkan bahwa PB PBSI bakal membuat kode etik menyangkut pemain dan pelatih pelatnas. Kode etik itu memuat segala kewajiban dan hak pemain, pelatih, serta PB PBSI sendiri.

"Kode etik tersebut dibuat untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan menimpa atlet, pelatih, dan PBSI. Kami akan membahasnya dalam mukernas (musyawarah kerja nasional) pada 23 dan 24 Januari di Jakarta," papar Djoko. (fim/ang)

Your Reply