Pasangan Olimpiade 1992
Saat Susy Susanti dan Alan Budikusuma mengawinkan medali emas di Olimpiade Barcelona tahun 1992 silam, saat itu pula diri ini belum tersentuh dengan euforia kemenangan apalagi rasa bangga sebagai negeri yang baru pertama kali meraih medali emas gelaran olah raga terbesar sejagat . Penyebabnya banyak, namun yang paling mendasar adalah saat itu aku baru kelas 2 SD yang seingatku belum ngeh dengan yang namanya Olimpiade. Semua itu diperparah dengan belum masuknya Listrik ke desaku sehingga menonton TV pada malam hari kadang menjadi sesuatu yang mahal atau sebuah perjuangan tepatnya). Menariknya kalau diingat-ingat, hal yang mengingatkan aku pada masa tahun berlangsungnya Olimpiade Barcelona, itu adalah Lagu “Barcelona-nya” pedangdut Ona Sutra yang sering terdengar di radio dan TVRI…
Tentu menjadi sebuah rasa penasaran tersendiri melihat detik-detik menegangkan perebutan medali emas itu. Walau sebenarnya Indonesia cukup lega karena terjadi all Indonesian Final di tunggal putra, antara Ardy B. Wiranata vs Alan Budikusuma, sehingga secara defacto satu emas sudah dalam genggaman. Rasa penasaran itu adalah bagaimana Susy Susanty melawan salah satu musuh bebuyutannya : Bang Soo Hyun dari Korea.
Dan setelah mencari kemana-mana termasuk browsing keberbagai situs internet yang menjual berbagai VCD/DVD olah raga namun tidak mendapatkan juga. Justru disebuah stand penjual pernak pernik saat pergelaran Indonesia Open 2008, VCD pertandingan final Bulutangkis Final itu kudapatkan (walau versi bajakan tentunya).
Menyaksikan partai final saat itu memang sangat menegangkan. Karena Susy bahkan sempat tertinggal di set pertama 11 : 5 dari Bang Soo Hyun, yang memiliki smash keras. Namun setelah sempat diabuat dag-dig-dug karena kekalahan diset pertama itu, saya membayangkan masyarakat indonesia tersenyum saat satu persatu smash keras Bang Soo Hyun bisa dipatahkan. Begitu juga juga dengan drop shoot dan netingnya. Semua itu tentu membuat Hyun kaget dan serba salah, apalagi lob kebelakang yang sulit di smaspun semakin menguras tenaga, hingga akhirnya Susy berbalik unggul 11 : 5 pada set ke dua.
Saya yakin, pada set ke tiga, semua masyarakat Indonesia berdo’a agar keunggulan itu kembali terjadi. Stamina yang sudah terkuras ditambah pukulan-puklan yang bisa dipatahkan menjadikan Hyun semakin tersudut. Dan walau Hyun masih bisa memberikan perlawanan ketat, tapi Susy tetap bisa bisa mengatur irama permainan hingga emaspun berhasil diraihnya setelah menghempaskan Bang Soo Hyun 11 : 3. Semua masyarakat Indonesia terharu, seperti komentator di TV (Ibu Minarni yang juga mantan antlet Bulu Tangkis) yang sampai tak dapat berkata-kata bahkan harus meninggalkan studio karena terharu…
Empat tahun kemudian,
Olimpiade Atlanta 1996, Saat itu hampir semua tahapan baik upacara pembukaan maupun pertandingan dan perlombaan kuikuti melalui TVRI tercinta, dan puncaknya adalah saat perebutan medali emas ganda putra Ricky Soebagja dan Rexy mainaky melawan ganda tangguh dari negeri jiran Malaysia, Yap Kim Hock- Soo Beng Kiang. Partai ini menjadi sangat penting karena dari Ricky-Rexy lah harapan emas terakhir indonesia tersisa setelah sebelumnya Mia Audina yang memberi kejutan manis dengan melangkah ke final kalah dari Bang Soo Hyun, yang di semi final juga berhasil merevans Kekalahan empat tahun sebelumnya atas Susy Susanty.
Set pertama Ricky-Rexy kalah dari ganda Malaysia, Tegang rasanya! Set ke dua lebih snewen rasanya kalau diingat-ingat, karena pengumpulan angka Ricky-Rexy juga ketinggalan lagi. Namun satu persatu angka berhasil diraih hingga memaksa rubber set. Nah di partai ke tiga inilah suasana riuah penuh dengan teriakan, ketegangan dan harap harap cemas hati berdo’a memenuhi ruangan. Akhirnya kerja keras Ricky-Rexy dan Do’a segenap rakyat Indonesia membuat Tuhan kembali memberik karunia : Medali emas di leher, Indonesia raya berkumandang.
Delapan tahun kemudian,
Adalah pasangan ganda putra Indonesia, Candra Wijaya-Tony Gunawan, yang lagi-lagi menorehkan catatan manis di Olimpiade Sidney 2000. Ia berhasil meraih medali emas setelah mengalahkan ganda Korea
Indonesia sebenarnya sangat berpeluang untuk meraih medali Emas tambahan melalui tunggal putra yang saat itu tengah matang-matangnya : Hendrawan. Namun diluar dugaan Hendrawan justru kalah dipartai final dari tunggal putera China Ji Xin Peng, yang sebenarnya tidak terlalu bersinar dalam karirnya. Bahkan saat itu ia kalah pamor dinading kompatriotnya Xia Xuanze. Selain di tunggal puera, emas yang sudah didepan mata juga gagal diraih ganda Campuran Trikus Heryanto dan Minarti Timur. Padahal pada game ke dua Trikus-Minarti sudah unggul jauh, dan sepertinya akan pulang membawa emas. Namun takdir kembali berbicara lain, satu per satu ganda campuran China mengejar, dan justru akhirnya yang menjadi kampiun.
12 tahun kemudian,
Olimpiade Athena, Walau tidak difavoritkan dan mulai kalah pamor dari Lin Dan, Taufik Hidayat berhasil meneruskan tradisi emas Olimpiade. Olimpiade ini juga menjadi catatan khusus karena di bagian puteri Indonesia tidak satupun menyertakan wakilnya di tunggal dan ganda puteri.
Tahun ini,
Olimpiade Beijing baru saja usai. Partai final yang umumnya dimaikan sore hari membuat aku tidak bisa menyaksikan secara leluasa, apalagi mendekati jam siaran berita sore : Jam Panik kata temanku! Akhirnya bekerja sistematis dan cepat serta curi-curi waktu adalah acara agar aku tidak melewatkan partai semi final dan final Bulu tangkis. Saat Markis Kido-Hendra Setiawan kalah di set pertama sepertinya pasrah rasanya, karena lawan yang dihadapi adalah Cai Yun dan Fu Faifeng yang smashnya keras dan kompaknya bukan main. Tapi ternnyata Kido-Hendra bisa membalikkan keadaaan hingga menang di set ke dua dan terus memimpin di set ke tiga. Indonesia menang!! Indonesia dapat emas!! teriakan, tepuk tangan dan saling bersalaman bahkan berangkulanpun terjadi di ruang redaksi. Intinya wajah-wajah bahagia terlihat bertebaran di ruang redaksi, rasanya jadi kompak banget orang-orang di ruangan kerja itu…tempat kerja yang bukan taman bunga itu, tiba-tiba sejenak menjadi Taman Senopati yang menyegarkan dengan detak jantung penuh rasa bangga.
Sayang sehari setelah itu, Justru Nova Widiyanto- Liliyana Natsir yang mempunyai kans besar setelah bertempur mati-matian di semi final melawan He Hanbin-Du Jing, justru kalah mudah dari Le Yong Dae-Le Jo Hyun. Yang menyesakkan, permainnya tidak berkembang dan seperti pemain yang baru dipasangkan. Gemas rasanya, apalagi ia merupakan unggulan pertama. Tapi yakinlah mereka sudah berusaha keras!! Dan pertandingan memang hanya memunculkan satu pemenang…
Setelah empat tahun sebelumnya dipandang sebelah mata, tahun ini sektor putri berhasil mengirimkan wakilnya. Adalah Maria Kristin, tungga puteri yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Satu persatu pemain dengan peringkat tertinggi berhasil dikalahkan, termasuk Tine Rasmussen dari Denmark yang paling ditakuti skuad puteri China. Dan benar saja, di babak semi final tiga dari empat kontestannya adalah puteri China, Xie Xing Fang, Zhang Ning dan Lu Lan.
Walau pernah mengalahkan Zhang Ning di Semi final Indonesia Terbuka 2008 di Jakarta, Maria terlihat kewalahan mengatasi pukulan mematikan Zhang hingga membuat Maria hanya sampai di semi final. Susah membayangkan Maria meraih medali awalnya, karena lawan yang dihadapi lagi-lagi tunggal puteri China. Kali ini masa depan puteri China, Lu Lan. Set pertama Maria didikte dan kalah mudah. Tak disangka set kedua setelah susah payah Maria berhasil unggul. Dan Set ketiga melalui drama yang panjang, karena sempat unggul jauh namun nyaris terkejar, Maria akhirnya bisa membuat Lu Lan bersimbah air mata meratapi kegagalannya. Selamat Maria!!
Sementara itu, Zhang Ning yang sudah berusia 33 tahun berhasil mengalahkan unggulan pertama Xie Xing Fang, sekaligus memupus impian mewujudkan pengantin emas olimpiade bersama Lin Dan, seperti Susy dan Alan. Dan fantastisnya Zhang Ning ternyata bisa mempertahankan Emas yang diraihnya empat tahun lalu setelah mengalahkan Mia Audina di final, yang saat itu telah membela Belanda. Zhang Ning adalah atlet tua yang sebenarnya diawal karirnya mengalami cobaan berat karena prestasinya selalu tenggelam dibanding atlet-atlet lainnya, bahkan pernah kalah dari Mia Audina pada Final Uber Cup 1994 yang membuat Piala Uber direbut Indonesia.
Bulu Tangkis terancam tidak dipertandingkan di Olimpiade
Romantisme medali emas yang selalu di raih Indonesia pada gelaran Olimpiade sepertinya mendapatkan ancaman serius. Popularitas bulu tangkis yang semakin menurun bahkan hanya berada di peringkat ke-4 dari bawah membuat wacana tidak mempertandingkan olah raga ini semakin mengemuka. Apalagi sejak dipertandingkan pertama kali tahun 1992 lalu, bulu tangkis selalu dikuasai China, Indonesia, Korea dan Denmark. Nyaris negara-negara lain tidak terlalu dapat berbicara banyak.
Apa sebenarnya yang membuat masyarakat dunia tidak terlalu suka dengan Bulu Tangkis? Padahal dalam beberapa literatur bulu tangkis pernah menjadi olah raga yang diminati masyarakat barat dengan strata sosial tingka atas. Kenapa Bulu tangkis bisa menjadi olah raga yang tidak begitu populer di Eropa, Afrika dan Amerika? Dan pertanyaan lainnya, apa yang harus segera dilakukan agar cabang olah raga ini bisa terus dipertandingkan dan semakin populer mengingat masih ada empat tahun persiapan?...
Mampukah kita eraih medali emas Olimpiade jika tanpa Balu Tangkis?
Dan untuk cabang Angkat Besi yang kembali menorehkan prestasinya, Kami juga Bangga kepada anda semua
Setelah Penutupan Olimpiade Beijing,
By : TOMY RISTANTO
Labels
Thomas Uber Cup
all england
HasiL Kuis Khayalan Valentinan
OM FRED
Serba-Serbi Atlet
STATEMENT
TAGLINE
TERBAIK
badminton
kyouchantika
Copenhagen Master
KICK ANDY
Panglima TNI Cup
Wawancara Atlet
IBSG KUIS
Kejuaraan Nasional
Liliyana Natsir
Ramalan Badminton
Sirkuit Nasional
Tournament Events
Hasil Kuis Akhir Taun
Kejuaraan Asia Junior
Korea Super Series
SELEKNAS
swiss super series 2010
No Comments
Jika tanpa Bulu Tangkis di Olimpiade 2016..
.